Blog Details Home / Blog Details

Letupan Keringat Empat Lima
Cerpen . 09-02-2026

Letupan Keringat Empat Lima

Letupan Keringat Empat Lima


Oleh : Dwi Lestari 


Kicauan nyanyian ayam jantan saling bersahutan, kumandang shubuh pun mengiringi orkestra pagi itu. Para embun saling berlomba menetes pada dahan dan rerumputan. Meski masih fajar, ibu sudah bangun sejak tadi.

Sejak pukul 02.00 dini hari ibu sudah bangkit dari tempat tidurnya. Dengan sejuta harapan yang masih ada, ibu mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan langsung menuju ke  dapur. Ibu membuat gendar[1] dan gorengan. Sembari memasak, ibu menyempatkan sholat malam. Mengadu dan mencurahkan segala harapannya kepada Sang Pencipta.

Saat azan shubuh berkumandang, ibu lekas memanggilku sembari menata gorengan pisang dan bakwan pada nampan, ada pula lontong dan singkong goreng lengkap beserta gendar dan bumbu kacang. Setelah itu, ibu meletakkan beberapa lontong dan gorengan di piring untuk sarapanku nanti, lalu menuju padasan untuk berwudhu dan sholat shubuh. Tepat pukul 06.00 nanti, ibu sudah berangkat menjajakan dagangannya.

“Ririn, ayo bangun!” teriak ibu dari dapur. Walaupun sibuk, ibu masih sempat memperhatikanku, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pernah suatu hari, ibu membelikan aku sepatu sekolah dengan menyisihkan sebagian hasil dagangannya. Untuk seragam sekolahku, ibu memilih untuk menjahit. Karena dengan membeli bahan saja, itu lebih murah ketimbang membeli seragam sekolah baru. Kalau ditanya seputar pahlawan, hanya ibulah pahlawan lahir batinku. Karena perjuangan ibukulah, aku menancapkan tekad untuk maju.

Sementara hari ini berkeadaan sebaliknya. Biasanya, aku hari ini sudah bangun bersama ibu. Membantu ibu mempersiapkan gendar dan gorengan. Namun, kemarin aku belajar hingga larut malam. Buku-buku di ruangan kamarku berserakan. Goresan lingkaran bertinta air liur membekas pada selimut dan bantalku. Kutatapi sekitar kasur, penuh dengan buku yang bertebaran di mana-mana. Ada buku Matematika di ujung kepalaku, buku bahasa Inggris di ujung kasur bagian kanan, Kamus Oxford tergeletak dengan halaman terbuka di lantai, buku bahasa Indonesia dan kumpulan soal persiapan UN ada di ujung kasur sebelah kiri. Berantakan sekali. “Hoaamm,” seringaiku sembari menggeliat. Mataku sebenarnya tak kuasa melawan kantuk, tetapi panggilan ibu yang melengking, membuat tubuh ini kupaksakan bangkit.   

Kudekati sebuah cermin yang tergantung di dinding kamar. Di depan cermin, kutatap wajahku dengan mata sayu. “Aduhai, bagaimana ini? Tiga bulan lagi, aku akan Ujian Nasional. Aku harus bisa memberikan yang terbaik. Aku pasti bisa!” semangatku dalam hati. Kutengok pula, figura goresan kata ajaib Man Jadda Wajada[2] dan gambar wisudawan yang terpampang di dinding kamar, membuat otot dan urat-uratku membuncah keluar. Darah segar tiba-tiba mengalir ke seluruh penjuru sel tubuhku.

Sepanjang jalan menuju sekolah dengan sepeda ontel warisan kakekku, aku terus menelusuri pertanyaan dan pendapat yang berkecamuk di dalam hati, “Mengapa di negeri ini tidak memberikan uji bakat dan keahlian saja sebagai penentu kelulusan ya?” Misalnya, membuat produk atau karya. Sebenarmya, aku iri dengan teman-temanku yang ada di Finlandia. Konon, menurut kabar yang kubaca dari buku-buku atau artikel internet di sekolah, anak-anak pelajar Finlandia tak pernah stres seperti diriku. Mereka tak pernah ada UN[3]. Pelajaran mereka penuh dengan kreativitas. Mmh, seandainya, aku bisa bersekolah di sana. Sudahlah Rin, ibumu kan hanya berjualan gendar dan gorengan serta menerima pesanan jahit dari tetangga, sedangkan ayah sudah meninggal 10 tahun yang lalu, mana mungkin bisa sekolah ke luar negeri. Eits, menurut kata ajaib Man Jadda Wajada, tidak ada yang tidak mungkin. Siapa tahu, aku bisa mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Aamiin.

Senyum Ririn mengembang dan semakin menyeringai, menghiasi lesung pipitnya yang manis. Katrol sepeda, ia goes dengan semangat. Jilbabnya yang terurai panjang berkelebat terkena angin, seperti sayap Superman. Jalanan berbatu yang ditempuhnya seakan seperti jalan tol. Lurus, tak berkelok. Seakan pintu gerbang kesuksesan sudah terlihat di depan matanya.

......................

Di sekolah setelah bel istirahat berbunyi, tak biasanya, Bu Mega, wali kelasku memanggilku dan mengajakku ke ruang Kepala Sekolah. “Apa aku punya masalah ya?” celetukku dalam hati penuh kecemasan. Seperti biasa, telapak tanganku dengan kilat dibanjiri air keringat seperti kubangan air. Telapak kakiku juga demikian. Basah karena cemas. Sepanjang koridor kelas, kulihat pancaran bola mata Bu Mega tak garang seperti biasanya. Namun, hatiku cemas luar biasa. Terlebih, sorot tajam teman-temanku di sekitar koridor kelas, seakan-akan mereka penasaran dan bertanya, “Ada apa kamu Rin? Kamu punya masalah ya?”  Aku berusaha menenangkan diri. “Tenang! aku kan tidak pernah membuat masalah. Lihat saja wajah Bu Mega,  lembut begitu seperti sutera.”

Setibanya kami di depan ruang kepala sekolah, Bu Mega memberi tahuku bahwa aku akan ditanya soal persiapan UN. “Syukurlah!” hatiku bergumam. Di ruang kepala sekolah, aku melihat guru Matematika dan guru bahasa Inggris. Namun, guru bahasa Indonesia, Bu Erni tak tampak rupanya, mungkin sedang ada tugas lain.

“Selamat pagi Pak?!”

“Selamat pagi, silakan duduk, Rin!”

“Baik, terima kasih Pak. Ada apa yaa Pak, memanggil Ririn ke ruangan ini?” tanyaku penasaran sembari duduk.

“Bagaimana persiapan kamu menjelang Ujian Nasional yang tinggal tiga bulan lagi ini Rin?”

“Alhamdulillah, Pak, saya tiap malam belajar dan tak lupa pula saya berdoa.” Jawabku dengan semangat.

Bapak kepala sekolah tersenyum bangga kepadaku. “Hebat kamu, Rin!” ucap bapak kepala sekolah. Sedetik kemudian, kepala sekolah menatap wajah guru-guru yang ada di sampingku. Setelah menghembuskan nafas untuk menenangkan diri, Pak Sutedjo, sang kepala sekolah memulai lagi dialog kami.

“Begini, Rin. Kamu kan siswa berprestasi di sekolah ini. Kamu juga selalu mendapatkan peringkat pertama tiap ulangan semester. Apa kamu ndak kasihan sama teman-teman kamu yang prestasinya biasa-biasa saja. Bagi-bagi ilmu itu kan juga bagian dari ibadah kan? Yooo, kamu nanti jangan pelit sama teman-teman kamu!” jelas Pak Sutedjo, kepala sekolahku.

“Maaf, maksud Bapak apa ya? Saya harus mengajarkan teman-teman begitu?”

“Maksud Bapak ya seperti itu, tapi kan ndak mungkin. Wong UN saja tinggal tiga bulan lagi. Kamu yaaa kasih lihat jawaban kamu ke teman-teman kamu. Kasihan kan, kalau mereka ndak lulus, bisa bikin malu sekolah. Kamu mau kan menjaga nama baik sekolah ini?”

Seakan darah dan keringat empat limaku membuncah keluar seakan-akan larva merapi yang akan meletus, tetapi hembusan nafasku meredakan semua ini. Kalau saja aku tak ingat, dia bukan orang yang dihormati, kalau saja dia bukan kepala sekolah yang disegani, aku akan beserapah memakinya. Dengan tegas kujawab , “Maaf Pak Sutedjo, Ririn tidak bisa memenuhi permintaan Bapak dan guru-guru, lebih baik Ririn mengundurkan diri sebagai pelajar di sekolah ini daripada Ririn mempertaruhkan nasib bangsa.”

“Ya, kamu jangan mengundurkan diri. Nanti, nilai sekolah juga akan turun, Wong kamu yang paling berprestasi di antara teman-teman seangkatan kamu. Apa kamu ndak mau pikir-pikir dulu? Bapak tahu, ini memang berat buat anak semuda kamu yang masih punya semangat idealisme. Namun kami, para guru di sini juga sebenarnya berat lho, di sisi lain kami harus mempertaruhkan nama baik sekolah, di sisi lain pula secara nurani, kami juga ndak setuju dengan tawaran yang Bapak ajukan tadi. Kalau kamu sayang sama teman-teman dan sekolah kamu, Bapak kasih kesempatan untuk berpikir. Tiga hari lagi Bapak tunggu jawaban kamu ya?”

Kutorehkan pandanganku ke arah Bu Mega dan guru-guru, mereka menatapku penuh harap. Sementara Bu Mega mengelus-elus pundakku. “Maaf Pak, Bu, saya permisi keluar,” pamitku pada guru-guru. “Ya, ya, boleh, silakan. Ingat lho Rin, tiga hari lagi, Bapak tunggu jawaban kamu.” Aku hanya tertegun dan menunduk.

.......................

Di depan koridor kelas, kulihat segerombol anak perempuan sedang duduk-duduk di bangku teras. Mereka asyik mengobrol, satu sama lain saling bercerita, saling mencurahkan hati, saling berbagi informasi, dan saling berbagi tawa. Tak jauh dari sana, sekelompok anak laki-laki bermain bola basket di lapangan. Saat aku datang, Rudi yang sejak tadi bermain basket, tiba-tiba menghampiriku. “Kamu kenapa Rin, wajahmu kusut begitu? Kamu tadi dari ruang kepala sekolah, memang ada apa?” tanyanya penasaran. “Ndak ada apa-apa,” jawabku dengan mata tertunduk. “Rud, ayo lanjutin mainnya. Ngapain sih di sana?” seru Yogi, rekan satu timnya. Saat Rudi menoleh ke arah temannya, aku langsung meloyor pergi ke ruang perpustakaan. Rudi memanggilku, tetapi aku tak peduli.

Rupanya Rudi memperhatikanku sejak tadi, tetapi aku tidak peduli. Bagiku Rudi sama seperti lelaki lain, yang kerjaannya hanya mencari perhatian wanita. Buktinya, tiap dia bermain basket, anak-anak perempuan di sini meneriakinya dengan semangat, dengan yel-yel yang tak jelas. Apalagi Lisa, begitu melihat Rudi, langsung mengejarnya, seakan-akan mengejar sang idola. Namun, mengapa akhir-akhir ini, Rudi seperti selalu memperhatikanku, menyapa, dan menanyakanku. “Aah, mungkin itu hanya perasaanku saja, mana mungkin sih anak orang kaya dan keren itu mau sama aku,” celetukku dalam hati. “Ah, kok jadi mikirin dia sih. Ririn fokus, UN tiga bulan lagi, belum lagi dengan tawaran Pak Sutedjo, aaah, pusiiiiing!” gumamku dengan resah sembari memukul meja. Sontak saja pengunjung perpustakaan di sebelahku  memarahiku, “Syuuuut, jangan berisik!” Lalu kuambil buku pendalaman materi Bahasa Indonesia yang ada di lemari perpustakaan terdekat dari tempat dudukku. “Eh, buku bahasa Indonesia, jadi teringat Bu Erni. Mana yaa Bu Erni, kok ndak kelihatan, kangen nih, sama ekskul teaternya.”

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Bu Erni tiba-tiba ada di hadapanku saat aku mencari buku di lemari perpustakaan. Dengan riang dan penuh kenyamanan, kutorehkan semua yang terjadi di sekolah ini, mulai dari perasaan saya ke Rudi sampai tawaran Pak Sutedjo agar aku membocorkan jawaban soal UN. Bukan main geramnya Bu Erni pada Pak Sutedjo beserta komplotannya. Bu Erni adalah guru kesayanganku. Ia yang selalu memotivasiku untuk belajar meraih cita-cita. Bahkan, seringkali aku curhat dengan Bu Erni. Usianya yang tak jauh berbeda denganku tak mengurangi rasa ta’zimku dengan beliau. Malah, aku lebih menyegani beliau ketimbang Pak Sutedjo.

Bel pun berbunyi.

“Kriiiiiiiiiiiiing ... !”

“Bu Erni, ojo ngomong karo wong akeh yoo.”

“Soal Rudi? Hehehe ...” Ledek Bu Erni

“Aaahhhh ... Ibu, bukan Rudi!” gumamku penuh manja

“Lalu siapa dong?”

“Itu loh, soal ... (aku pun merendahkan nada bicaraku seraya berbisik kepada Bu Erni) tawaran Pak Sutedjo.”

“Tenang aja Rin, Ibu ingin kowe dadi anak yang jujur dan pemberani.”

“Oke Bu, Ririn ke kelas dulu ya!”

“Oke Rin, Ibu juga ada jam ngajar, sampai jumpa!”

Pertemuanku dengan Bu Erni tadi kukira akan berlanjut dengan pertemuan di tahun selanjutnya, ternyata hanya berlanjut sampai tahun ini saja. Tepat saat aku menamatkan SMA-ku, Bu Erni pun keluar dari tempat ini. Tempat yang penuh dengan kenangan dan cerita bersamanya. Cerita tentang dagangan ibu, soal Rudi, bahasa, dan matematika. Bu Erni memang serba bisa dalam segala hal, terutama soal cinta.

“Bu Erniiiiii, jangan pergi Buuuu!” teriakku dalam mimpi di suatu malam.

Ternyata, Bu Erni senasib juga denganku. Sama-sama mendapat tawaran yang mempertaruhkan nurani bangsa. Kabarnya, Bu Erni membelaku untuk menolak memberi kunci jawaban UN sampai-sampai ia tersingkir dari pekerjaannya dan tak dilibatkan dalam acara perpisahan kami. Tak hanya itu, ketersingkiran beliau juga akibat dari penolakan beliau untuk memberi kunci jawaban UN pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.  “Mmh, Bu Erni, guru mulia yang telah menjadi pahlawan bagiku,” gumamku di dalam hati.

Sementara, bagaimana denganku setelah lulus SMA? Walaupun aku tak pernah lagi bertemu dengan Bu Erni, diam-diam Bu Erni mencarikan donatur agar aku bisa melanjutkan kuliah. Lagi-lagi Bu Erni berjuang untukku, untuk kami muridmu. “Bu Erni, kelak aku ingin menjadi dirimu, menjadi pejuang kejujuran. Seorang pahlawan yang senantiasa menyuarakan letupan keringat empat lima. Semangatmu masih terpancar di hati, wahai guruku.



[1] Sejenis makanan dari uli ketan yang diberi bleng, sehingga legit dan kenyal. Makanan ini disajikan dengan sayuran hijau dan sambal kacang.

[2] Kata ajaib ini mengacu kepada kata yang ada di dalam novel Negeri Lima Menara karya A. Fuady, yang berarti “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”

[3] Informasi didapat dari seminar Munif Chatib dan karya-karyanya seperti Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, dan sebagainya.

0 Comments

Leave A Comment

Sing in to post your comment or singup if you don’t have any account.