Blog Details Home / Blog Details

Peran Sesungguhnya
Kata mereka, guru adalah orang tua kedua. Dulu aku tidak percaya, menganggapnya istilah semata. Sampai keluargaku memutuskan untuk memindahkanku ke sebuah sekolah. Sekolah di mana akhirnya aku merasakan secara langsung, tidak lagi menganggapnya sebatas istilah.
Perkenalkan, aku Rasya. Hanya seorang siswa biasa yang tidak terkenal seperti anak ambisius dan OSIS lainnya. Sebenarnya aku ingin sekali masuk OSIS, tetapi apa daya, tubuhku yang rentan terkena penyakit menjadi penghalang. Kini aku hanya menjadi murid biasa, yang setiap pembagian kelompok selalu dilempar-lempar padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak menjadi beban.
Duduk di bangku belakang dengan sabatang pensil dan buku tulis halaman belakang yang menjadi temanku, aku menggambar botol minum di depan ku. Dengan earphone tersembunyi di balik kerudung putih, lagu yang bersenandung lembut, membuat suasana kelas yang ribut, terasa tenang bagiku. Jarang sekali bagiku mencari ketenangan sesungguhnya di buana yang terasa tak adil ini. Tanganku dengan pelan menggores, menari indah di kertas. Membentuk bayangan menggunakan arsiran. Sampai satu tangan menyentuh bahuku, membuat diriku terkejut. Salah satu murid yang sekelas denganku, duduk tepat di belakangku, yang bahkan aku tidak tahu namanya menunjuk dengan ibu jarinya ke arah meja guru. Di sana aku baru menyadari, sedari tadi seluruh mata tertuju padaku.
"Ehhh .... Ada apa ya Bu?" tanyaku pelan, menunduk takut.
Bu Ros, guru yang mengajar mata pelajaran IPS. Memandangku dengan tatapan lembut. "Rasya Putri, bisa kamu ikut saya ke ruang guru?" Aku mengangguk pelan, samar-samar aku mendengar bisikan murid lain, berbagai opini mereka keluarkan.
"Buat masalah apa dia?"
"Iya, udah beban kelompok masih aja buat masalah!"
Aku menggeleng, memandang ke depan, mengikuti Bu Ros dari belakang. Sampailah kami tepat di depan ruang guru. Bukannya masuk, Bu Ros mengajak diriku untuk duduk di bangku tepat depan ruang guru.
"Tunggu di sini ya, Ibu mau ke dalam sebentar," ucapnya dengan senyum. Aku membalas dengan anggukan, suasana koridor sunyi. Dengan sabar aku menunggu, menghilangkan semua pemikiran negatif di pikiranku. Tidak bisa dipungkiri, aku hanya murid biasa, ini pertama kali bagiku dipanggil ke ruang guru. Aku bukan anak OSIS yang sudah langganan dipanggil, maupun anak bermasalah yang sudah menjadi langganan ruang BK maupun ruang guru. Aku hanya penghuni bangku belakang yang asyik dengan dunianya sendiri.
"Maaf ya, Ibu lama."
Suara Bu Ros membuatku tersadar dari pikiranku. Dia duduk tepat di sebelahku. Di tangannya, terlihat buku tulis Bahasa Indonesia dengan namaku tertera disampulnya. Aku menatap bingung, kenapa buku Bahasa Indonesia ada di tangannya? Bukannya buku itu sudah kukumpulkan bersama buku teman yang lain kemarin? Lagi pula mata pelajaran Bahasa Indonesia bukan hari ini.
"Ibu tahu kamu bingung, tetapi Ibu mau ngomong sesuatu sama kamu." Tangan lembut sedikit keriput itu membuka halaman demi halaman, sampai berhenti di halaman terakhir. Terdapat hasil gambaranku di sana, karakter Manhwa yang kusukai dan ilustrasi tempat pensil yang kugambar seminggu yang lalu. Aku tertegun, apa aku akan dimarahi? Tapi bukannya mencoret buku paket dan kertas ulangan yang akan dimarahi?
"Ibu sudah diskusi sama Pak Ramly, guru bahasa Indonesia kamu kan?" Aku mengangguk, tetap diam dan menunduk. Perlahan aku merasakan lengan lembut menyentuh kepala dengan elusan asing. "Gambaran kamu bagus, kamu punya bakat gambar ya? Sejak kapan? Sayang loh bakat seperti ini disia-siakan," ujarnya sembari memberikan buku itu kepadaku. Aku terdiam, apa gambaranku bagus? Kata mamah gambaranku ini nggak guna kan?
"Bukannya bakat gambar nggak guna Bu? Kata mamah sama teman-teman, aku nggak guna, gambaranku juga jelek." Tanpa sadar aku mengatakan semua isi pikiranku. Sedetik kemudian barulah aku sadar, berulang kali mengatakan maaf karena tidak menyaring bahasa di depan yang lebih tua. Bu Ros memakluminya, mengambil kembali buku tulisku.
"Bakat seperti ini sayang sekali disiakan, Nak. Mereka salah Nak Rasya, melainkan bakat kamu ini harus lebih diasah lagi. Bagaimana kalau Ibu dan Pak Ramly bantu? Pak Ram, dia kerja sampingan menjadi guru seni. Ibu kasih kamu waktu satu minggu ya, kalau hasilnya memuaskan kamu ikut seleksi lomba buat bulan depan ya Nak Rasya." Aku hanya diam, tidak tahu harus membalas apa. Bakat ku selama ini ....
"Seleksi ... Lomba?" Aku bertanya dengan nada pelan, kata itu ... Sangat asing dan hal baru bagiku. Aku baru dengar lomba sejenis itu, ternyata ada.
"Ya Nak, setiap pulang sekolah kamu pergi ke gazebo taman sekolah ya. Kamu mau kan?" Aku diam, tidak menjawabnya. Bimbang, antara ingin menerima, tetapi aku sendiri tidak yakin dengan bakatku. Bu Ros dengan lembut menaruh buku tulis itu di pahaku, membuka halaman demi halaman. Berbagai jenis gambar, dari benda maupun orang. "Tipe kamu ini, gambar realistis kan? Walau semua orang nggak percaya sama bakat kamu, Ibu bakal selalu dukung kamu Rasya. Sayang bakat kamu seperti ini disayangkan. Ikut ya," ujarnya lembut, tanpa sadar aku menangis. Baru kali ini ada yang mengakui bakatku. Bu Ros menarik pelan tubuhku ke dalam rangkulannya. Menenangkanku. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku menangis.
Perlahan isakanku berhenti. Bu Ros kembali menanyakan adakah aku berminat mengikuti ajakannya, aku mengangguk pelan tersenyum simpul. "Terimakasih Bu, saya akan ikut." Bu Ros tersenyum, memberikan nomor teleponnya di handphone-ku, dan mengajakku kembali ke kelas. Di sepanjang koridor aku tersenyum, bahkan sampai di bangku aku masih tersenyum. Tidak mempedulikan bisikan teman-teman, aku hanya memandang gambaran di buku tulisku. Ini pertama kali aku merasa diperhatikan dan dihargai.
Aku menunggu dengan tidak sabar jam pulang, aku sudah memberitahu ke ibu kalau aku pulang akan lama. Dia marah-marah mengatakan siapa yang akan menjaga adik jika aku pulang terlalu lama. Aku tidak peduli, aku sudah terlalu lama memperhatikan adik, tidak memperhatikan diriku sendiri, lagi pula adik sudah besar. Dia sudah kelas 4 SD.
Aku membaca kembali pesan Bu Ros. Gazebo taman sekolah. Dengan lari kecil aku sampai di taman sekolah. Gazebo kecil itu berada tepat di tengah-tengah taman. Samar-samar aku melihat Pak Ramly dengan salah satu pengurus OSIS di sana. "Permisi Pak," ujarku lembut, Pak Ramly langsung sadar kehadiranku, memberi tahu untuk menunggu sebentar. Aku mengangguk, masuk ke dalam gazebo dan menunggu dengan sabar. Pembicaraan mereka berdua tampak penting, mungkin mengenai event atau kasus di sekolah?
"Maaf Bapak lama, jadi ... sampai mana kamu belajar? Udah ngerti form shadow belum? Atau teori warna?" Aku memandang bingung, kata-kata itu sangat asing bagiku. Pak Ramly tertawa kecil. "Kamu benar-benar langsung melempar imajinasimu ya. Baiklah kita mulai dari penggunaan warna dulu ya?" Pak Ramly dengan lembut mengajarkanku, dia lagi-lagi terkejut karena aku hanya menggunakan satu pensil.
Dia mengambil sesuatu di tasnya. Satu set pensil lengkap dengan jenis yang berbeda. Satu set spidol akrilik serta pensil warna. "Ini semua buat kamu dari Bapak. Jaga baik-baik ya." Tangan beruratnya memberikan 3 kotak besar itu kepadaku. Aku memandang alat asing di pangkuanku. Mataku berkaca-kaca. Mereka bahkan sampai membelikanku barang mahal demi bakatku? Segitunya?! Rasa tekad perlahan tumbuh, dengan tekad penuh aku menyimak dengan serius.
Saat pulang, aku disambut keheningan. Tidak ada sambutan, hanya catatan kecil tergeletak rapi dimeja ruang tamu. Dengan kasar, menghempaskan tubuhku di sofa yang lembut. Membaca setiap kalimat tertata rapi di selembar kertas sticky note berwarna kuning.
[Jaga rumah, saya ada acara arisan. Jangan lupa adek kasih makan, bantuin adek kamu kerjain PR, jemuran, setrika baju, sama beli bahan dapur di warung Madara list-nya di bawah keranjang. Adek di kamar kamu]
Lihat? Bahkan Ibu lebih mementingkan acaranya dari pada anaknya huh ... Akhirnya aku memutuskan menuju kamar. Bagus, adikku tidur. Setidaknya aku masih ada waktu untuk istirahat dan melanjutkan pelajaran pak Ramly tadi. Baru melempar tubuh ke kasur handphone-ku sudah berdeting tidak karuan. Pesan dari ibu mengingatkan sesuai dengan catatan mengalir bak arus air. Dengan helaan singkat, aku memutuskan untuk menurut.
Hari berganti malam, semua tugas sudah selesai. Akhirnya tiba waktuku untuk sendiri dengan set yang baru saja diberikan oleh Pak Pram tadi siang. Adikku sudah tertidur di sofa, wajahnya terlihat tenang. Aku sedikit merasa iri melihatnya. Iri melihat bakat adikku dalam menulis didukung penuh oleh ibu. Iri melihatnya selalu diimanja. Sedangkan aku? Ah sudahlah, lebih baik aku mulai belajar saja, mungkin lagi-lagi ayah ibu pulang lewat lagi.
Hari-hari terlewati dengan cepat, tanpa sadar seminggu sudah terlewati, kini Bu Ros dengan pak Ramly di sebelahnya memandang hasil lukisan di kertas A4, karyaku. Senyuman bangga terlukis di wajahnya. Tanpa sadar aku tersenyum lega.
"Sip, mantep! Ibu bangga sama kamu Rasya, besok kamu ikut seleksi ya?" Wajah Bu Ros terlihat bangga, riak wajah yang sangat asing bagiku. Kapan ya bunda memberikan seperti apa yang Bu Ros berikan padaku. Kapan bunda bangga padaku? Kapan bunda mendukung bakatku? Samar-samar aku merasakan peran orang tua pada mereka berdua. Pak Ramly yang dengan tegas dan lembutnya mengajariku bagaikan seorang ayah dan Bu Ros yang selalu mendukung bagaikan seorang ibu. Akhirnya aku merasakan peran seorang ibu dan ayah.
Besoknya seleksi pun diadakan, salah satu anak OSIS datang dan menyebutkan namaku membuat kelas heboh, aku dengan bangga menuju depan kelas dan mengikutinya menuju perpustakaan. Di sana aku memandang wajah-wajah asing, tetapi anehnya mereka menyambutku. "Wahh kamu pasti anak yang diajarin Pak Ramly kan? Aku selalu lihat kamu setiap ke kantin pas pulang sekolah!" Aku tersenyum malu. Kami pun mulai berkenalan. Ternyata mereka memiliki bakat gambar, tetapi dengan jenis yang beragam. Salah satunya Citra, dia lebih condong ke ilustrasi pemandangan dan Dira, dia lebih condong ke hal berbau komik dan manga. Akhirnya Bu Ros datang dengan Pak Ramly, seleksi pun dimulai, kami diminta menggambar di kertas HVS dengan waktu satu jam.
Jantungku terasa berdebar, dengan hati-hati tanganku menari liar di kertas. Goresan demi goresan tercipta, sampai tak terasa waktu sudah habis. Kertas kami dikumpulkan, hasil seleksi pun dikeluarkan. Betapa senangnya aku kala namaku disebut, Citra dan Dira juga disebut. Kami bertiga lulus dengan salah satu anak OSIS yang aku tidak tahu namanya. Anak yang tidak terpilih tampak murung, tetapi Pak Ramly dengan senang hati mengajak mereka mengikuti ekskul baru yang akan dia buka.
Hari demi hari menuju perlombaan, Bu Ros selalu mengingatkanku untuk berlatih, dan menjaga pola makan. Aku bersama yang lain juga tidak pernah absen pada ekskul yang akan di buka oleh pak Ramly. Sekiranya, Kamilah anggota pertama diekskul ini.
Sampai di hari lomba pun datang, menggunakan taksi kami menuju tempat perlombaan dengan Pak Ramly sebagai guru pembimbing. Nomor urut tergantung tepat di dadaku. Duduk dengan canggung di ruangan perlombaan menggenggam erat set pensil yang diberikan Pak Ramly. Tugasnya sangat susah, menggambar secara realistis keranjang buah di depan kami.
Aku melirik peserta lain yang tampak juga gugup. Namun, aku tidak boleh menyerah, Bu Ros sudah menaruh kepercayaannya padaku, aku tidak mau menghilangkan kepercayaan dan ekspektasi nya.
Akhirnya waktu selesai, kami diperbolehkan keluar ruangan sementara para panitia mengambil lukisan kami. Pak Ramly menyambutku dan mengajakku ke ruangan lomba yang lain. Setelah menunggu cukup lama, sembari memakan es krim traktiran Pak Ramly kami menunggu hasil lomba.
Juara demi juara di berbagai bidang diucapkan. Citra menang sebagai juara kedua, Dira juga menang di juara ketiga. Hanya tinggal lombaku, aku menunggu dengan jantung berdebar.
"Juara kedua adalah Agita Maulida dari SMP Nusa"
Aku menggigit jariku dengan gelisah.
"Dan juara pertama....."
"Rasya putri dari SMP 4 Darsha! Bagi para pemenang silahkan maju ke depan!"
Aku tertegun, aku ... juara pertama?! Mataku berkaca-kaca senang, maju keatas panggung dengan senyum senang. Melirik Dira dan Citra yang juga terlihat senang. Pak Ramly tampak terharu memandang kami bertiga. Dari atas panggung aku melihatnya, dengan handphone-nya yang sedang memulai panggilan. Itu Bu Ros, dia tampak senang bahkan menangis melihat ku.
Aku sangat bersyukur.
Aku berhasil....
Berhasil mencapai ekspektasinya.
Berhasil membuat senyum bangga itu terukir.
Berhasil menemukan teman.
Dan juga berhasil menemukan peran ayah dan ibu sesungguhnya dari orang berbeda.
Guru adalah orang tua kedua itu bukan lagi hal tabu, bukan lagi kiasan belaka. Aku Rasya Putri berhasil menemukan arti istilah tersebut.
Leave A Comment
Sing in to post your comment or singup if you don’t have any account.
0 Comments