Blog Details Home / Blog Details

Guruku, Pahlawanku
Cerpen . 11-02-2026

Guruku, Pahlawanku

Guruku, Pahlwanku

Oleh : Nayla Salwa Fayyaza (Kelas VIII.1)

Fisika adalah satu satu pelajaran yang tidak bisa kupelajari. Begitulah yang kupikirkan saat aku masih kelas 1 SMP. Tetapi, semuanya berubah drastis karena guru IPA-ku.

Dua puluh tahun setelah hari itu, hidupku benar-benar berubah drastis. Namaku Andrin, umurku 35 tahun. Aku adalah seorang fisikawan terkenal dari kotaku. Dulu, aku adalah anak yang tidak suka Fisika karena aku tidak memahaminya sama sekali. Bagaimana aku bisa sampai di titik ini? Bagaimana aku dapat mengubah pemikiranku yang dulu? Aku akan menceritakan bagaimana aku bisa menjadi ahli Fisika seperti sekarang.

 Saat itu, aku sedang berada di kelas 7 semester 1. Aku benar-benar gugup karena aku dihadapi dengan pelajaran IPA. Memang, saat itu, pelajaran IPA masih satu kesatuan pelajaran. Tetapi, aku sama sekali tidak mengerti dengan cabang pelajaran Fisika. Nilaiku sangatlah buruk, aku bahkan mendapatkan nilai 20 dalam penilaian pelajaran IPA dan aku juga mendapatkan ranking yang paling bawah di kelas. Guru IPA-ku sampai bertanya, “Bagaimana kamu bisa seperti ini, Andrin? Apa yang tidak kamu pahami dengan pelajaran Fisika?” Guru IPA-ku kelihatan sangat kebingungan karena aku adalah satu-satunya murid di kelasku yang mendapatkan nilai kecil seperti itu. Bahkan, anak yang nakal pun masih bisa mendapatkan nilai 50. Sementara, diriku, yang tergolong murid  rajin, hanya mendapatkan nilai 20.

Aku sangat malu karena aku merasa usahaku sia-sia. “Bu, sepertinya aku tidak akan bisa mengerti Fisika. Aku gagal dalam memahami dan mengerjakannya,” ujarku dengan wajahku yang terlihat sedih dan murung. Guru IPA ku, Bu Wahyu, melihat wajahku dengan perasaan sedih.

“Tidak, kamu tidak gagal. Ibu akan membantumu dengan pelajaran ini, percayalah dengan dirimu sendiri,” jawab Bu Wahyu dengan senyum tipis di wajahnya. Aku merasa tersentuh, tidak biasanya seseorang ingin mengajariku sesuatu dengan dalam. Terlebih lagi, Bu Wahyu adalah orang tersibuk yang aku tahu. Setelah mengajar di sekolahku hingga jam setengah 3 sore, Bu Wahyu mengajar les fisika dan biologi hingga jam 9 malam di dekat rumahnya. Aku sangat takut karena mungkin saja aku telah menganggu waktu istirahatnya dikarenakan mengingat jadwal Bu Wahyu sangatlah padat. Aku berharap aku tidak menyusahkan Bu Wahyu. Namun, Bu Wahyu malah tersenyum kepadaku dan menawarkanku bantuan dan bimbingan.

“Bisakah kamu bertemu dengan Ibu setelah jam pulang sekolah? Ibu akan mengajarimu tentang dasar-dasar Fisika.” tanya Bu Wahyu saat menghampiriku. Aku sangat merasa senang. Akhirnya, setelah sekian lama, ada juga seseorang yang ingin mengajariku.

Dengan rasa bahagia serta rasa bersemangat, aku pun menanggapi pertanyaan Bu Wahyu dengan nada yang bersemangat, “Tentu saja Bu!”.  

Setelah jam pulang sekolah, Bu Wahyu menghampiriku dan mulai mengajariku tentang rumus-rumus fisika. Di tengah pelajaran tersebut, aku merasa bingung serta panik karena tidak satu pun materi dapat kucerna. “Bu, sepertinya aku tidak akan bisa memahami pelajaran Fisika ini ... sepertinya aku terlalu bodoh,” ujarku dengan wajah yang memelas. Aku merasa sangat sedih karena aku tau bahwa guruku telah berusaha keras demi diriku dan aku tidak mengerti tentang Fisika.

“Andrin, tidak ada orang yang bodoh. Kamu hanya tidak mengerti tentang Fisika. Kamu pasti bisa, kok. Ibu percaya denganmu,” jawab bu Wahyu dengan senyumnya yang lembut bagaikan kapas.

Mendengar kata-kata itu, aku mulai mengikuti perkataaan Bu Wahyu dengan baik. Aku mulai menanyakan cara tercepat mengerjakan soal Fisika dan rumus apa saja yang harus kupelajari. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, nilai IPA-ku semakin naik. Setiap hari, aku terus berlatih dan belajar Fisika dengan niat.


Pada suatu hari, Bu Wahyu mendatangiku dengan rasa bangga serta senang karena sekarang aku memiliki motivasi untuk terus belajar dan berlatih. “Wah, nilai kamu sudah membaik ya,” Bu Wahyu menghampiriku dengan rasa bangga dan berkata, “Teruskan usahamu. Ibu percaya padamu, Andrin. Janganlah kau merasa rendah diri karena kau harus percaya pada dirimu sendiri.”


Setelah aku lulus SMP, aku mulai mengikuti kompetisi-kompetisi Fisika di SMA-ku, aku bahkan mendapatkan berbagai beasiswa dikarenakan kepintaranku di bidang Fisika. Setelah lulus SMA, aku mendapatkan beasiswa untuk pergi ke Inggris dan kuliah di sana. Beberapa tahun setelahnya, aku lulus dan mendapatkan gelar Doktor. Aku merasa bangga kepada diriku sendiri karena sudah berhasil menjadi fisikawan. Saat berada di Inggris, aku bertemu dengan profesor-profesor terkenal dan ilmuwan-ilmuwan yang cerdas. Mereka mengatakan bahwa kecerdasanku memiliki potensi yang bagus. Di sana, aku juga belajar banyak hal. Di antara lainnya adalah bagaimana guru berjuang demi mengajar murid-muridnya.


Di balik senyum guru yang biasa kulihat, tersimpan rasa senang susah dan perjuangan keras di baliknya. Saat itu, aku mencoba mengajar di suatu sekolah di Inggris karena tugas kuliahku. Di situ aku baru menyadari bahwa menjadi guru bukanlah hal yang mudah, aku harus berhadapan dengan begitu banyak anak-anak dengan sifat yang berbeda-beda dan juga aku harus menahan emosiku saat mengajar mereka. Sekarang aku sadar mengapa Bu Wahyu mengajariku begitu keras karena ia ingin anak didiknya bisa menjadi seseorang yang sukses. Seseorang yang bisa menggunakan keahliannya dan bisa mendorong rasa takut serta rasa malas didalam pikirannya. Aku merasa takjub karena ini benar-benar pengalaman yang sangat berharga dan berkesan bagiku. Sejak saat itu, aku mulai percaya pada diriku sendiri karena aku tau bahwa Bu Wahyu telah berjuang keras demi mengajarkan ku ilmu yang pastinya sangat bermanfaat.


 Namun, aku menyadari sesuatu. Beberapa lagi adalah hari guru. Aku bergegas memesan tiket pesawat untuk kembali ke Indonesia. Sesampainya disana, aku membeli kue dan buket bunga. Setelah itu, aku mulai berjalan ke SMP-ku yang dulu dengan rasa bersemangat serta rasa senang. Aku terus tersenyum sepanjang jalan bagaikan seorang anak yang mendapatkan mainan baru. Sesampainya di sekolah tersebut, aku menghampiri kepala sekolah yang sedang duduk di ruang kepala sekolah. “Permisi, apakah ini kepala sekolah yang baru?” tanyaku saat bertemu dengan kepala sekolah tersebut. Kepala sekolah itu pun menjawab dengan nada yang pelan.


“Ya, benar. Apakah kamu butuh sesuatu?” Di saat itu, aku merasa bahwa masih ada harapan untuk bertemu dengan Bu Wahyu.


Dengan wajah yang tersenyum lebar seakan sedang mendapatkan berita yang luar biasa, aku pun menjawab kepala sekolah tersebut, “Nama saya Andrin, saya adalah alumni sekolah ini. Kalau saya boleh tahu, apakah Ibu kenal dengan Bu Wahyu?”


Kepala sekolah itu kemudian menjawab pertanyaanku dengan senyumnya yang lebar, “Wah, saya kenal dengan Bu Wahyu, tetapi sekarang beliau sudah pensiun sejak 5 tahun yang lalu.”


“Bolehkah saya meminta alamat rumah Bu Wahyu?”tanyaku kepada kepala sekolah tersebut. Kepala sekolah pun memberikanku secarik kertas berisikan alamat dan nomor telepon Bu Wahyu.


Dengan rasa senang serta semangat aku pun berterima kasih kepada kepala sekolah dan bergegas pergi menuju rumah Bu Wahyu. Sesampainya di sana, aku pun mengetuk pintu rumah Bu Wahyu dan menunggunya untuk membuka pintu. Setelah Bu Wahyu membuka pintu, ia merasa terkejut serta senang karena murid kesayangannya akhirnya datang untuk berkunjung ke rumahnya. “Wah, Andrin. Kamu sudah dewasa ya sekarang. Bagaimana kabarmu?” Bu Wahyu bertanya sambil tersenyum lebar kepadaku.

“Bu, sekarang saya sudah menjadi fisikawan terkenal, bahkan saya dapat beasiswa dari Inggris berkat bantuan ibu. Bagaimana dengan ibu, apakah ibu sehat?” jawabku dengan rasa senang yang tidak kepalang. Bu Wahyu merasa terkejut, bagaimana bisa perannya yang hanya sebagai guru bisa mengubah kehidupan seseorang secara drastis?.


Setelah beberapa saat, aku pun memberikan Bu Wahyu sebuat buket bunga dan setoples kue yang dulu sering Ibu Wahyu berikan kepadaku saat ia sedang mengajar. “Andrin, kamu ingat saja ya dengan kue kesukaan Ibu. Terima kasih ya,” ucapan Bu Wahyu dengan ekspresi yang riang gembira.


“Terima kasih Bu Wahyu. Karena ibu, saya sekarang bisa lulus S3 di Inggris. Bahkan, sekarang sekarang saya bisa menjadi dosen,” ujarku sambil menatap Bu Wahyu. Bu Wahyu pun tersenyum dengan rasa bangga, ia tahu bahwa muridnya yang dulu sangat membenci Fisika dan tidak mengerti pelajaran itu sama sekali sekarang menjadi ahli pada pelajaran tersebut.


“Sudah ibu bilang, Andrin. Didunia ini, tidak ada manusia yang bodoh. Kau hanya tidak mengerti tentang pelajaran tersebut. Sekarang, kamu menjadi ahli pelajaran itu,” ucap Bu Wahyu.


Setelah mendengar itu, aku bertekad akan membuat sekolah dengan nama “Yayasan Bu Wahyu” untuk anak-anak yang tidak mampu untuk mengajarkan mereka pelajaran fisika seperti Bu Wahyu mengajarkan kepadaku dulu secara gratis karena dengan inilah aku bisa membalas kebaikan Bu Wahyu dengan menyebarkan ilmu yang aku dapat darinya. Karena di balik senyum seorang guru, tersimpan ilmu yang bermanfaat, doa dan ketulusannya untuk muridnya. Beberapa tahun kemudian, yayasan yang aku dirikan tersebut pun kedatangan banyak murid. Aku merasa senang.


Akhirnya, anak-anak tersebut bisa mendapatkan ilmu yang kelak bisa membantu orang lain ataupun diri mereka sendiri. Bu Wahyu pun mendatangi yayasan tersebut dan menemui ku. “Kamu hebat, Andrin. Kamu mau memberikan anak-anak tersebut ilmu yang sangat bermanfaat bagi diri mereka dan orang lain. Ibu sangat bangga denganmu, teruskan lah usaha mu. Ibu yakin bahwa usaha yang baik akan juga berbuah dengan hasil yang baik,” ucap Bu Wahyu sambil memegang pundakku.


Setiap tahun, ada saja murid murid yang sama sepertiku dulu, tidak mengerti apapun tentang pelajaran IPA atau pelajaran lainnya. Oleh karena itu, aku mengarahkan guru-guru yang bekerja di sana untuk membantu murid-murid yang kesulitan itu. Seiring berjalannya waktu, murid-murid tersebut pun mulai ahli di bidang yang tadinya mereka tidak bisa ataupun yang mereka benci. Yayasan yang kudirikan tersebut mendapatkan perhargaan atas prestasi tersebut. Bahkan, pemerintah memanggilnya sebagai “Yayasan Terbaik Se-Jakarta Selatan.” Aku senang, ilmu yang kupelajari selama ini akhirnya tidak sia-sia dan dapat disalurkan secara baik. Aku berharap anak-anak tersebut dapat meneruskan pembelajaran ini hingga mereka bisa menjadi siapapun yang mereka mau dan menjadi sukses.

0 Comments

Leave A Comment

Sing in to post your comment or singup if you don’t have any account.