Blog Details Home / Blog Details

Ini Terlalu Tiba Tiba
Farel Elvaro.
Siapa yang tak kenal salah satu dari alumni akademi Salfira
yang terkenal di kota Silla satu ini?
Anak tunggal tuan Elvaro, yang kini tinggal dengan kakek nya,
jauh dari orang tuanya. Namun sayang umur sang kakek tidak sepanjang yang ia
harapkan, kelulusan yang seharusnya menyenangkan. Malah menjadi tangisan penuh
pilu di temani senja yang kian menggelap.
Sore itu, sepulang dari kegiatan kelulusan. Masih menggenggam
piagam mahasiswa terbaik, dirinya menggenggam tangan yang sudah dingin di
kasur.
Sang kakek, meninggal tepat setelah dirinya bercerita,
senyuman yang tak pernah ia kira jikalau itu senyuman terakhir kakek nya.
Dikarenakan tawaran kerja di perusahaan besar, yang tanpak
tertarik dengan Farel. Dirinya harus meninggalkan pulau rintis, dan kembali ke
kota yang menjadi tempat dirinya lahir.
Tapi bagaimana bisa dirinya menemui sekelompok anak remaja
yang benar-benar mirip dengannya, dan menemukan hal yang tak pernah ia duga.
Dirinya yang tunggal, ternyata memiliki beberapa adik?
![]()
By:
Studykr1ng
Genre: Brotherhood
![]()
Di ruangan putih, terdengar sunyi, hanya terdengar suara
monitor detak jantung yang selalu berbunyi di sela garis nya.
ICU, Intensive Care Unit. Ruangan paling menakutkan di rumah
sakit, kaca pembatas selalu mendengar doa tulus melebihi dinding masjid. Tempat
di mana keluarga hanya bisa pasrah dan berdoa demi seorang insan yang sudah di
ambang kematian.
Uluran tangan di gagang pintu, terasa berat. Tarikan nafas
panjang, menguatkan tekad nya, dan langsung membuka pintu ruang ICU. Topi biru
yang biasa ia pakai, tergantikan oleh toga hitam dengan pakaian khusus saat
memasuki ICU. Senyumanan lembut terukir ketika anak matanya bertemu dengan
netra sang kakek.
"Kakekkk!!! FAREL JADI SALAH SATU LULUSAN TERBAIK!!!" Teriak
nya kecil, menunjukkan piagam dengan namanya terukir.
Farel Elvaro
Lulusan terbaik dengan rata-rata 98,80
Kakek Mulyono, kakek dari Farel yang kini hanya bisa berbaring
dengan alat nafas di hidung nya, tersenyum melihat cucu nya berhasil lulus
dengan nilai terbaik.
Tangannya terangkat, Farel menerima tangan itu dan langsung
menggenggam nya. Matanya terus menahan air mata, melihat kondisi kakek nya yang
semakin buruk, Farel berusaha tegar di depan sang kakek .
"F-farel "
Hati nya terasa ter-iris mendengar suara serak dari sang kakek.
"I-iya kek"
Sial, dirinya berusaha sedemikian mungkin agar suaranya tak
terdengar gemetar.
Kakek Mulyono tersenyum, lengannya memegang pipi sang cucu.
“Kakek bangga sama Farel, maaf ya kakek sama aba gak bisa
temenin kamu wisuda, maaf ya kakek gak bisa temenin kamu lama lagi. Maafin aba
kamu ya, jangan pernah benci dia ya. Boleh Farel cariin aba demi kakek?"
Farel merasa aneh dengan penuturan sang kakek, seakan itu
adalah wasiat terakhir nya. Matanya mulai berkaca-kaca, senyumannya terlihat
bergetar, kepalanya mengangguk dengan patah-patah.
"Kakek pergi dulu ya ... Jangan terpuruk sangat saat kakek
pergi ya.”
Tit....
"Kek? Maksud kakek apa kek? Kakek! Kak! Kak dokter kakek
saya dok!"
Farel menatap ketakutan sang kakek, kakek secara tiba-tiba
kejang-kejang, monitor detak jantung terus berbunyi menandakan detak jantung
pasien semakin lambat.
"Ashadu....alla..."
Mata Farel semakin berkaca-kaca, menguatkan dirinya untuk
menuntun sang kakek.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu"
"Ash- hadu an la ha! Ilaha il-lallahu"
Tangannya gemetar menggenggam tangan yang semakin dingin.
"Wa asyhadu anna M-muhammadar rasuulullah"
"Wa asy-hadu an-na M-muhamad-dar rasuullulah"
Tangan sang kakek terjatuh dari genggaman Farel, mata sang
kakek terpejam untuk selama-lamanya.
Layar statis terlihat di monitor, bibir Farel bergetar saat
merasakan tangan dingin di genggaman nya.
"Kakek..."
Para dokter dan suster, hanya bisa menunduk ikut bersedih akan
meninggalnya pasien kesayangan mereka.
Farel mencium tangan dingin sang kakek, dirinya menangis dalam
diam.
Dengan lembut sang Suster memberi tahunya karena mereka akan
mengurus jasad sang kakek.
Farel dengan berat berdiri, memandang sang kakek yang kini
tertutupi kain putih. Para suster melepas seluruh alat di tubuh kakek Mulyono, dan
membawa ranjang itu menuju keluar ruang ICU.
Celsi, Dokter muda yang umurnya tak jauh dari Farel. Menepuk
punggung sang pemuda, tersenyum menyemangati dirinya
"Kau dah jadi cucu terbaik di masa terakhir embah rel.
Maaf akak gak bisa selamatkan embah kau"
Celsi menarik Farel ke dalam pelukannya. Remaja jauh lebih
pendek darinya, dapat ia rasakan bahunya gemetar di rangkulannya. Dalam hati
dirinya juga mencaci maki, padahal dirinya sudah berjanji pada remaja ini,
untuk menyembuhkan sang kakek. Tapi tuhan berkehendak lain.
"Gak papa kak, kakak juga udah berusaha keras untuk kakek....."
Suara itu terdengar bergetar, Celsi memejamkan matanya, air
mata perlahan mengalir di pipinya.
"Kakek pasti seneng ketemu nenek di sana"
Sial, tangis Celsi semakin deras mendengar penuturan remaja
yang di dewasakan oleh keadaan di pelukannya ini.
"Farel! Kakek, kakek gimana?"
Rombongan remaja yang sama-sama menggunakan pakaian wisuda
mendatanginya. Persetan dengan macet, mereka jadi telat datang ke rumah sakit.
Celsi menyeka air matanya, berusaha profesional di depan
sekumpulan remaja itu.
"Pasien Mulyono, kakek kalian..... Saya meminta maaf,
beliau sudah di jemput oleh sang maha kuasa"
Mata mereka berkaca-kaca. Rana dan Rasya menangis dalam
rangkulan Dafa. Naufal, dirinya berusaha tegar, memeluk sang teman yang pasti
sekarang terpuruk sangat dengan kepergian sang kakek.
"Rel, sabar ya? Kakek pasti gak suka liat lu sedih di
atas sana"
Senyuman getir terukir di wajahnya, ketika sang teman meliriknya.
Farel memeluknya, mengeluarkan semua unek-unek dalam pelukan sang sahabat.
"Kakek fal, kakek udah pergi. Gw gak ada siapa-siapa lagi!"
Naufal menggeleng, membalas pelukan sang sahabat. Dirinya
berbisik, suaranya yang cempreng kini berubah lembut.
"Lu gak sendirian Farel, lu masih ada kami. Temen-temen
lu. Kalau lu butuh sandaran, inget. Lu masih ada kita, temen-temen lu. Kita
bukan baru kenal satu hari rel.”
Farel mengangkat kepalanya, memandang satu demi satu teman-temannya.
Memang benar, teman sejati selalu ada saat kita terpuruk. Mahu
susah ataupun senang, mereka akan selalu siap menjadi pengganti 'rumah'
•••••••
Sudah seminggu sejak pemakaman sang kakek, Farel terduduk
dengan kertas di depannya. Pria berbadan kekar dan satu lagi pendek, setinggi
anak TK memandang dengan senyuman di depannya.
"Nilai serta lulusan terbaik di akademi Salfira, sangat
menarik perhatian Nasalab. Kemahiran mu akan sangat berguna dalam hal riset
teknologi"
Pria kekar di depannya tersenyum, Farel masih memandang kertas
itu.
"Biar aku pikirkan dulu"
Dua orang di depannya tersenyum, dan mengangguk.
"Jika kau tertarik, datang saja ke kota Nasa, kami izin
pergi dulu assalamualaikum"
Badan Farel bergetar, matanya membulat menatap kedua punggung
pria itu yang perlahan tertutupi oleh pintu.
'kota Nasa...'
"Waalaikumsalam"
Jadi kita perlukan penyelamat bum-
Tit!
"Halo?"
"FAREL!!! BUKA GRUB SEKARANG!"
Suara cempreng langsung terdengar, di barengi telepon yang
mati.
Farel bersandar di sofa sembari melihat grub Garis keras
pecinta coklat.
_____________________________________
Garis keras pecinta coklat: 23 pesan
'Banyak banget? Pada ngomongin apaan?'
Penggila wortel:
Oy, lu pada dapet tawaran di perusahaan NASA kaga?
Rana:
Haah, tapi gw belum jawab lagi
Lu pada ikut?
Rasya;
Ikut yuk Ra, gw juga dapet
Rana:
Ayok aja
Penggila wortel:
@Si nopal @anda
Lu pada dapet kaga
Si nopal:
Gw kaga dapet apa-apa perasaan
@anda lu dapet fel?
Oy
@anda
Penggila wortel:
Oy kang sadbot
Nopal:
Bentar gw telpon
Anda:
Napa?
Penggila wortel:
Baca dari atas
Anda;
Oalah, ayok aja
Kalau Rana sama
Rasya ikut, gw ikut
Penggila wortel:
Oke gw ikut juga
Di nopal:
GAES!!!! GW DAPET JUGAAAA!!
_____________________________________
Farel tersenyum, melempar handphone nya dan langsung mengambil
pena, melihat kertas itu.
"Ya ... setidaknya bisa sambil kerjain wasiat kakek"
•••••••
Sebuah Van besar terlihat berhenti di sebuah rumah, rumah yang
tampak sederhana namun penuh kenangan.
"Haih udah lama banget kita gak kesini, terakhir kali
waktu SMA hari raya itu kan~," celetuk Naufal sembari meregangkan tangan,
tangannya menyenggol lengan Farel yang terlihat melamun.
"Haah, makasih ya kalian udah mau temenin gw di rumah
gede ini"
Farel mengambil kunci, memasukkan ke dalam lubang kunci. Di
belakangnya teman-temannya saling memandang dan saling tersenyum lembut.
"Dah, yuk kita berberes"
"Yok!"
•••••••••
Sudah sebulan penuh mereka tinggal di kota Nasa, dan juga
sudah 2 Minggu mereka bekerja di perusahaan NASA dengan dapartemen yang
berbeda-beda. Walaupun berpisah tapi mereka masih saling mengobrol setiap makan
siang.
"Farel!!!"
Mendengar nama panggilan nya, Farel izin pamit pada Teman baru
satu depertemen dan langsung pergi mendekati yang lain.
"Kalian mau makan apa hari ini?"
"Pake nanya~ nasi goreng kantin!"
Mereka berjalan dengan tenang menuju kantin Kantor, di dalam
terlihat ramai tapi masih ada meja yang cukup untuk mereka.
Seperti biasa Rana dan Rasya pergi mengambil makanan untuk
mereka, sementara Dafa, Naufal dan Farel mencari tempat duduk.
Baru saja duduk, Dafa sudah membuka obrolan mereka.
"rel, rencana lu cari bapak lu di sini jadi kah?"
Rafel terdiam sesaat, anggukan mantap di berikan membuat Dafa
lega.
‘hampir aja gw jadi ubi di cerita ini'
"Haah, tapi gw masih bingung mulai dari mana. Gak tahu
rumah nya, fotonya juga gak punya. Di rumah kakek kan gak ada fotonya sama
sekali."
Suasana di antara mereka hening, Dafa dan Naufal pun gak tahu
mau kasih pendapat apa.
"Mungkin ... Ada temen bapak lu gak di sini?"
Pertanyaan dari Rana dan Rasya, berjalan mendekati mereka, dia
tidak sengaja mendengar obrolan mereka.
"Boleh juga ... Btw lu pada duluan aja, gw kayaknya bakal
lembur. Masih ada kerjaan"
Naufal menaikkan alisnya bingung, menelan makanan nya dan
bersuara. "Mau kita bantu?"
"Gak usah, lagi pengen aja biar besok kaga ada kerjaan.
Kan libur panjang besok"
"EHH HAAH LAH! Gaes balik ke kota Silla yok besok!” Ajak Naufal dengan
semangat.
"Yok!!"
Mereka ber4 bersorak kecuali Farel, Farel menggelengkan
kepalanya.
"Kalian aja, gw mau joging besok"
Awalnya kokotiam tak setuju,dan membujuk Farel untuk ikut,
tapi karena Farel yang keras kepala akhirnya mereka menurut.
Malam itu. Hadi, teman satu dapartemen Farel pamit balik,
meninggalkan Farel sendirian di dapartemennya. Farel masih memandang proyek Ai
yang akan dia buat itu.
"Hm~ warna kuning cakep nih~"
Sebenarnya tugas dia dah selesai kapan tahu. Tapi dia rasa
bosan dan nak pakai alat perusahaan tuk buat Ai sendiri.
Artificial Intelligence itu ia buat untuk membantunya mengatur
jadwal, sebab dia ada permasalahan dalam mengingat sedari kecil.
"Ocho aktif"
'Artificial Intelligence ocho aktif, ada yang saya bisa
bantu tuan'
"Hmm... Kaku sangat, boleh tak gaul sikit bahasa
nya"
'memproses....'
'mestilah boleh, kau mau tanya apa human? Jangan susah
susah tau, dasar manusia'
Farel meringis mendengar penuturan tajam dari AI yang
dia buat tuh.
"Pedas Nye... Sapa yang ajarin lu nih?”
'kau lah yang buat aku'
"Ehh iya juga ya, dahlah boleh gak lu pindah ke jam
pintar nih?" Farel mengangkat jam nya, AI di komputer tiba-tiba
layarnya menjadi statis.
'memproses...'
'Succeed'
‘Hah dah ape lagi!’ Farel menatap kaget jam di
tangannya, sebuah hologram terlihat di
sana.
"Uish kaget aku, hahaha berhasil ternyata gw buat lu
versi hologram macam nih"
Ocho hanya bisa memandang dengan emoji -_- di layar nya.
Hologram robot bulat dengan dua tangan itu tampak berkacak pinggang.
"Dah lah, dah malam lebih baik lu balik. Sini bagi
kordinat rumah lu biar aku cari taksi"
"Ehh gak usah!!! Jalan aja. Lagian jam segini taksi udah
gak ada paling"
"Yelah~"
Farel langsung membereskan barangnya, dan melangkah keluar
dari kantornya.
Di luar, jalanan tanpak sunyi. Farel berjalan dengan tenang,
tangannya menggenggam handphone dengan senyum tipis. Membaca pesan ucapan
selamat tinggal dari teman-teman nya yang sedari sore sudah berangkat menuju ke
pulau rintis.
Aku nak ikut, tapi.... Biarlah, mereka mesti rindu keluarga
mereka. Ah... Sepertinya kesempatan ketemu ayah semakin kecil batin Farel, tangannya memasukkan handphone itu kembali ke saku
celananya.
"Hwaaaa tolong!!"
Suara teriakan menarik perhatian dirinya, satu alisnya Menaik
bingung sekaligus penasaran.
"Ocho, scane daerah nih. Ada yang dalam bahaya kah"
ucapnya pada Ai di jam nya.
'Memproses....'
'benar, 2 gang di depan terlihat satu remaja sedang
berusaha dimasukkan ke dalam mobil'
Gertakan gigi kasar, Farel langsung berlari menuju gang yang
di maksud. Mengintip, benar saja apa yang dikatakan oleh ocho.
Ai gw memang yang paling terbaik
batin Farel sempat-sempatnya membanggakan dirinya.
Dia langsung mengambil balok kayu, mengendap dan...
//Tang!
//Bruk!
"Bangsat! Siapa lu ha!"
Farel menyeringai, genggaman tangan pada balok kayunya semakin
kuat.
"Malaikat maut lu!"
//Bruk!
//Brak!
Kesal, salah satu penculik itu tampak mengeluarkan pisau. Mata
Farel menatap tajam.
Bermain kotor,huh. Menyusahkan
Tangannya dengan lentur menghindari serangan pisau. Menggenggam
dan langsung melintir tangan sang lawan membuat penculik itu berteriak. Satu
hentakan dari dengkul membuat suara retakkan tulang yang sangat nyaring.
//Krak
"Akhh bangsat!"
Melihat tangan temannya sudah patah, juga kondisi yang lain
sudah lelah. Bos mereka langsung memberikan kode untuk kabur. Mobil Van hitam
itu pergi menghilang di jalanan.
Farel melempar balok kayu ke sembarang arah, matanya menatap
khawatir pada remaja SMP yang masih menggigil takut.
"Dek,adek gak papa?"
Farel memegang bahu sang remaja, dapat ia rasakan badannya
gemetar hebat. Tangannya memeluk, berusaha menenangkan sang remaja.
Nyaman, mirip kak Nan. Kakak aku takut... Batin sang remaja, tanpa sadar menangis di bahu pria yang tak ia kenal.
Farel merasakan bahunya basah, membiarkan sang remaja menangis. Pasti dirinya
sudah sangat ketakutan tadi.
"A-abang, m-makasih bang" suara serak itu terdengar,
Farel menatap mata hijau yang tampak berkaca-kaca itu. Senyum lembut, tangannya
mengelus air mata sang remaja.
"Malam ini kamu ke rumah Abang dulu ya, baru besok kamu
hubungin keluarga kamu ya"
Suara lembut itu, entah kenapa membuat pemuda itu tertegun.
Padahal di depannya orang asing, tapi kenapa kehangatan nya sangat familiar.
Tanpa sadar pemuda itu mengangguk, Farel tersenyum dan langsung menggendong
remaja itu membuat nya berteriak malu.
"Ehh Abang jangan gendong Nolan berat!!"
"Ohh jadi nama kamu Nolan, gak papa, dah yuk ikut ke
rumah Abang"
Nolan menatap wajah lembut sang pria, senyuman senang di
wajahnya terukir.
"Mau!!! Ada susu coklat gak, Abang ada tanaman gak di
rumah?" Pertanyaan tak pernah terfikirkan oleh Farel membuatnya terkekeh.
"Tentu saja kamu juga suka menanam?"
Anggukan penuh semangat dari sang pemuda. Suasana jalan pulang
penuh dengan canda tawa dari kedua pemuda itu. Entah kenapa Farel merasa
perasaan aneh pada anak ini. Terlebih ada kelegaan kecil saat melihat senyuman
riang itu.
••••••
"Assalamualaikum"
Salam hangat terdengar saat pintu utama terbuka, Farel menurunkan
Nolan dari gendongannya. Nolan langsung berlari masuk dan memandang rumah itu
dengan muka senang.
"Wah! Rumah Abang keren!"
Farel menggelengkan kepalanya sembari terkekeh melihat sifat
kekanak-kanakan itu. "Ini bukan rumah Abang, tapi rumah peninggalan kakek
Abang. Dia..... Sudah di panggil tuhan" Farel tersenyum sendu. Mendengar
itu entah kenapa hati Nolan juga ikut sakit, dia berlari dan memeluk kaki
jenjang sang pria.
"Abang jangan sedih, kan ada Nolan. Ehh Abang udah makan
belom Nolan bisa bantuin masak!! Nolan sering bantuin Abang Nolan masak di
dapur!!!"
Farel tersenyum saat tangannya di tarik menuju dapur. Di dapur
itu mereka membuat omelet bersama dan menikmati nya bersama sembari menonton
tv.
"Nanti Kamu tidur di kamar temen Abang aja ya" mata
polos itu memandang sembari memiringkan kepalanya.
"Abang tinggal bareng teman abang? Di mana teman-teman
abang? Keluarga Abang?"
"Mereka lagi pulang kampung, besokkan libur panjang. Dan
kalau keluarga... Abang cuman punya kakek, dia dah pergi. Ayah.... Entahlah dia
tak pernah datang semenjak Abang tinggal di rumah kakek"
Nolan mendongak, menatap tatapan kosong sang pemuda.
Pandangannya tampak menatap siaran tv, tapi pikirannya terbang kemana-mana.
//Puk!
"Abang jangan sedih gitu dong, ntar ganteng nya ilang.
Readers ntar malah kepincut sama keimutan Nolan"
Pelukan hangat terasa dari samping, piring di paha Farel nyaris
terjatuh. Senyuman simpul terukir dan langsung mengelus gemas Surai sang remaja
di sebelahnya.
"Ada-ada aja kamu bocil, dah sana tidur"
"Oke bang!"
••••|••••••
Pagi itu Farel menyiapkan dirinya, kaos hitam dan celana
training. Sepatu hitam terpasang rapi di kedua kakinya.
"Abang Farel mau kemana?"
Panggilan cempreng terdengar dari dalam rumah, thorn keluar
dengan rambut acak-acakan dan mata mengantuk.
"Lari pagi, mau ikut?"
"Ya!! Tunggu sebentar!!"
Nolan Langsung mencuci mukanya, dan keluar menggunakan celana
olahraga sekolah nya. Untung saja dia membawa kaos cadangan dan celana olahraga
di tasnya. Sepatu sekolah ia kenakan juga di kedua kakinya.
"Ayok!!"
Farel tersenyum. Pagi itu kedua remaja itu berjoging kecil
mengelilingi taman kota hilir, menikmati waffle manis di taman.
"Nolan lihat sini" panggil Farel, tangan kanan nya
terangkat sembari mengangkat kamera handphone.
___________________________
Anda:
® Send foto
Lucu gak?
Si nopal:
Perasaan baru kita tinggal semalem lu fel
Anak mana lu culik?
Anda:
Abis nolongin bocil gw semalem
Rasya:
Lucunya!!!
Mirip lu ege rel
Rana:
Ehh iya juga ya
Penggila wortel:
Jangan-jangan saudara lu yang ilang?
Si nopal:
LU ADA SAUDARA?!
_________________________
Farel terkekeh melihat respon temannya, tapi dia juga
kepikiran. Kalau dilihat-lihat wajahnya dengan wajah Noland juga sama. Terlebih
.... Nolan memiliki garis rambut putih, bukannya kata kakeknya hanya di gen
mereka yang mempunyai rambut putih.
Jangan-jangan....
"Abang ayok pulang, udah panas nih"
Rengekan kecil terdengar dari sebelah nya, Nolan memegang
perutnya, suara kecil terdengar. Wajah Nolan langsung memerah.
"Oke Ayuk pulang dan makan, oh ya Nolan inget nomer papa
atau kakak Nolan gak?"
"Ingat!! Nolan inget nomer bang galak!"
Farel terkekeh mendengar panggilan itu.
•••••|•••••
Suasana di ruang tamu sunyi. Nolan terlihat tegang, menggemgam
celana jins yang masih ia kenakan. Sementara Farel, fokus dengan nomer yang
sedang ia hubungi.
'Halo?'
Sambungan akhirnya terdengar dari sebrang, membuat Farel menghela
nafas lega.
"Apa ini kakak dari Nola-"
'ADEK GW LU APAAN HAH!
KEMBALIIN ADEK GW'
Suara penuh panik, dan terdengar dingin itu langsung menyela Farel.
Farel berusaha menenangkan pemuda di sebrang.
"Ehh bukan gitu bang i-"
'Gak usah banyak bac-'
"ABANG GALAK!!!"
Seruan dari Nolan langsung melompat ke arah Farel, Farel dengan
sigap langsung menangkapnya dan menggendongnya.
"Nolan, jangan lompat gitu kalau kamu jatuh nanti Abang
kamu marah loh" tegur Farel, Nolan hanya cengengesan sambil mendekatkan
kepalanya ke arah telepon.
"Halo bang?"
“Nolan?! Kamu gak
papakan?"
Tiga suara langsung terdengar. Farel mengedip tak percaya.
"Kamu .... Punya tiga Abang?" Tanya Farel dengan
suara kecil, Nolan mengangguk sembari tersenyum tanpa dosa. Uh .... Rasanya Farel
mahu pingsan.
‘nolan sayang kamu gak
papakan?'
suara lembut terdengar, Nolan yang mengenal suara itu langsung
mendekatkan kembali kepalanya ke arah telepon.
"Momy-momy, momy jangan hawatir Nolan di selamatin sama
bang Farel. Bang Farel baik banget orangnya sama dia mirip banget sama Abang-abang
loh"
'bang Farel?'
seruan dari berbagai suara kembali terdengar. Farel kembali
tak habis fikir, sebenarnya apa yang dipikirkan bunda Nolan saat mengandung
mereka?
‘Nolan, Abang Galak mau
ngomong sama bang Farel yang kamu maksud'
suara dingin terdengar berat, Nolan mengasih handphone itu ke Farel,
dan turun dari gendongan Farel. Kembali duduk rapi di sofa.
Farel mengangkat alisnya bingung, memberi kode ke Nolan siapa
yang lagi dia hubungi ini.
"Itu bang Galaksi!" Suara cempreng nya langsung
membuat Farel menepuk jidat.
Nih anak gak bisa di ajak kompromi. Batin Farel frustasi.
"Halo, ini benarkan Abang Galak?" serunya lagi-lagi
memastikan orang yang di maksud Nolan.
'benar, boleh Abang sharelock?.
Nanti saya sama ayah saya pergi menjemput Nolan’
"Oh gak usah saya juga rencananya mau anterin Nolan ke
rumah kalian. Ini alamatnya sudah di tangan saya"
Panggilan cukup hening, sepertinya mereka sedang diskusi dari
suara bisik-bisik yang terdengar.
‘Olan mau di jemput atau
pulang sendiri'
tanya dengan nada ceria dari arah suara. Nolan langsung
membalas. "Olan mau pulang sendiri bang kasa!"
Farel berkedip beberapa kali. Bagaimana Nolan bisa membedakan
suara yang hampir sama itu?
'yaudah Nolan hati-hati
ya, nanti mau Abang masakin apa?'
"Ayam cabe ijo!!"
'oke, bang Farel makasih
ya udah jagain Nolan. Maaf jadi ngerepotin Abang'
"Aman aja, lagian rumah juga lagi sepi"
'makasih bang
assalamualaikum'
"Waalaikumsalam"
Panggilan di matikan dari seberang. Farel memasukkan handphone
ke saku dan mengambil kunci rumah.
"Yuk Nolan, Abang anterin naik sepeda listrik"
"Oke bang Farel!"
••••||••••
Satu kata untuk rumah besar di depannya ini.
Besar
Megah
Dan pasti beresin nya susah.
Sepertinya Farel harus meriset otaknya, jelas-jelas di
depannya ini bukan rumah. Melainkan mansion. Seberapa kaya anak muda yang ia
selamatin ini. Gak salah sih orang 5 anak, tak ia sangka ternyata Nolan masih
memiliki adik yang umurnya sangat jauh dari dirinya.
"Ayok bang masuk" tarikan baju terasa di sebelahnya.
Nolan menekan bel di sebelah gerbang, gerbang itu terbuka lebar. Terlihat 3
remaja berpakaian SMA menatap mereka dengan pandangan lain-lain.
"Momy Nan!!" Seru Nolan langsung berlari, melompat
dan langsung di gendong oleh salah satu remaja bertopi coklat.
"Olan, orang rumah panik tahu pas Olan gak pulang-pulang
dari toko tanaman" seru remaja di sebelah nya, dia mencubit pipi Nolan
dengan gemas.
"Maaf bang angkasa, kemaren jalan biasanya terjadi
kecelakaan jadi Nolan puter balik cari jalan lain. Ehh malah ketemu paman-paman
aneh yang mau culik, untung ada bang Farel yang selamatin Olan!" Dongeng
sang adik, pandangan sang kakak langsung tertuju pada Farel yang masih
menaikkan standar sepeda listrik yang ia beli dari gaji pertamanya.
"Jadi Abang yang selamatin Nolan" salah satu dari
remaja itu, bernetra merah darah berjalan mendekati Farel. Pandangan yang tampak
insten nan dingin itu membuat Farel langsung keringat dingin.
"Ah- iya benar" Farel menggaruk lehernya dengan
canggung, remaja yang kerap di panggil Galak itu menatap sebentar lalu....
Membungkuk.
Membuat Farel langsung salah tingkah.
"Ehh... Gak usah begitu"
"Gak papa bang terimakasih udah selamatin adek kita. Ayok
masuk dulu" seruan lembut dari remaja yang di panggil momy oleh Nolan. Fernand,
orang yang terkenal ramah dengan orang disekelilingnya.
Farel mengangguk dengan canggung, Fernand mengantar nya masuk.
Di ikuti Nolan yang di gendong oleh pemuda bermata biru Shapire, abang keduanya
Angkasa.
Farel tertegun, baru menyadari bahwa mata dari masing-masing
saudara ini saling berbeda.
"Ayuk masuk" Fernand tersenyum lembut ke arahnya,
membuka pintu besar itu. Banyak pelayan yang sudah berjejer menyambut mereka.
"Selamat datang kembali tuan muda Nolan."
Para pelan membungkuk menyambut mereka, di rumah tamu terlihat
anak SD yang langsung memeluk Nolan.
"Hwaaa kak Nolan kemana aja Alan pcariin"
Farel tersenyum melihat Nolan yang langsung di sambut dengan
kekhawatiran adiknya. Ah rasanya ingin sekali dia punya saudara juga, yang
selalu menghawatirkan dirinya.
"Nolan udah pulang?" terdengar suara dari arah
tangga, seorang pria berkisaran umur 45-an turun dengan jas rapi.
"Udah pah, Nolan di tolongin sama bang Farel. Iya gak
ban- bang Farel kenapa?" Nolan menatap heran pria yang menyelamatkan nya.
Nolan tampak terpaku, wajah familiar tampak terkejut juga
melihat dirinya.
"Ay-ayah."
"Alel?!"
"AYAH?!"
Tentu saja ruangan langsung heboh, Fernand dan Galaksi yang
baru datang dari luar tampak masih bingung dengan yang terjadi.
"Ada apa?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan mereka berdua. Alvaro, ayah
dari mereka tampak mendekat. Tangannya hendak memegang tangan Farel.
"Alel, nak kamu sudah besar nak. Bagaimana kabar kakek
nak"
Farel dengan tegas menangkis tangan sang kakek. Tatapan nya
tajam, namun berkaca-kaca.
"Papa kemana aja"
Suaranya terdengar hampir seperti berbisik. Kepalanya
mendongak, menatap tajam sang ayah dengan air yang berada tepat di ujung
matanya.
"Disaat kakek imakan kan Ayah ke mana"
"Apa? K-kakek, a-aba gak mungkin"
//Plak!
Suara tamparan nyaring terdengar di ruang tamu, Fernand dengan
sigap menutup pendengaran dan mata adik bungsu mereka yang masih tak tahu
apa-apa.
"Setelah membuang diriku di Kakek, dan kau pergi dengan
istri kau yang baru. Kau asik dengan istri mu sampai mempunyai anak sebanyak
ini. Sementara kakek berusaha banting tulang menyekolahkan ku biar aku bisa
mencari mu sampai dia sakit...."
Atmosfer terasa berat, beberapa pengawal tampak mendekat. Tapi
di hentikan oleh Galaksi. Dia masih ingin mendengar semua yang disembunyikan
sang ayah.
"Bahkan di detik terakhirnya, dia masih memikirkan mu....
Tapi sepertinya anak kesayangan tidak memikirkan dirinya, bahkan anaknya
sendiri. Bapak macam apa itu"
Ucapan terakhir Farel terdengar seperti menghina di telinga Alvaro,
tentu saja itu memancing kemarahan nya.
"Apa kamu bilang anak sialan"
//Plak!
Farel meringis,memegang pipinya. Fernand ingin mendekat, tapi Farel
mengangkat tangannya tanda dia baik-baik saja.
"Fine, setidaknya Alel dah jalankan wasiat Kakek. Ini
terlalu tiba-tiba pah. Kalau memang papah gak mau Alel ada di kehidupan papa
fine!"
Farel berjalan dengan pandangan menunduk, semua mata memandang
nya yang berjalan dengan pelan menuju pintu. Bahkan para pengawal memberinya
ruang untuk pergi keluar.
Nolan masih mematung di tempat, genggaman nya pada tangan Angkasa
menguat.
"Jadi... Selama ini Abang Farel Abang kita... Pantas dia
baik sama Nolan. Dia kuat sama kaya bang Galak. Lembut seperti bang Nan. Ceria
dan tenang seperti bang Angkasa. Gaya bertarung nya bahkan 11 12 sama bang Galak"
gumam Nolan, menggema di ruang tamu. Nolan menarik baju Angkasa. Terus meminta
untuk mengejar orang yang telah menyelamatkan nya.
Angkasa tentu saja masih terpukul dengan apa yang terjadi.
Hanya Galak yang tanpak biasa saja. Dia dengan lembut menenangkan Nolan dan
langsung menuruti permintaan Nolan.
"Yuk kejar bang Farel"
Nolan mengangguk, Galaksi langsung menarik tangan Nolan
keluar. Fernand memandang kedua saudaranya yang sudah keluar dari ruang tamu.
Memandang sang ayah yang masih terdiam, terduduk dan menunduk.
Suara notifikasi terdengar, Fernand memandang telefon nya yang
menampilkan notifikasi dari pesan nomer sang Abang sulung.
"Jangan ada yang keluar, biarkan papa sendirian
dulu"
Fernand menghela nafas, langsung mengajak yang lain pergi ke
kamar. Meninggalkan Alvaro yang masih terduduk, menunduk.
'Serius tuan besar ternyata seperti itu'
'iya aku juga gak nyangka ternyata tuan besar memiliki anak
lain selain tuan muda'
Bisikan dari beberapa pelayan yang sempat lewat. Terdengar
saling saut bersautan ditelinga amato.
'apa.... Aku ..... Sudah.... keterlaluan?'
••••|••••
Farel menuntun sepeda listriknya, lengannya mengelap dengan
kasar bekas air mata di pipinya.
‘Farel, total 4 panggilan dari nomer tak di kenal. Dan satu
panggilan dari teman kau' Suara Ai Ocho terdengar dari arah jam nya.
"Blok nomer tak dikenal tuh, dan jawab telpon plus
speaker"
'baik... Mengangkat'
"FAREL!!!! KAU APEHAL LAMA SANGAT JAWAB PANGGILAN AKU
HAAAA!"
Suara cempreng langsung masuk ke indra pendengaran nya, FAREL
terkekeh mendengarnya.
"Takde, tadi aku antar anak kemarin tuh. Itulah aku
lambat jawab telpon Korang" suaranya terdengar serak, tapi dia berusaha
tersenyum pada telpon video itu.
"Lu oke kan?"
Suara hawatir terdengar, Farel melirik sekilas layar handphone
nya. Rana terlihat hawatir memandang nya.
"Ama-"
//Tin-tin
"BANG FAREL!"
Farel memandang kebelakang, terlihat ramai mobil hitam
mengejarnya.
"Sialan"
Teman-teman nya yang melihat langsung bingung plus panik.
"Kenapa rel?"
"Gak- gak papa, lu
pada diem di situ, siang ini juga gw ke kota silla”
Farel langsung menutup panggilan itu. Ia tinggal sepeda
listrik nya. Lebih memilih berlari ke sela-sela gang. Dalam hati mengutuk
dirinya sendiri karena membuang duit. Itu sepeda listrik beli pakai duit ma~
Farel lompat mesin AC, demi mesin AC sampai di atas sebuah
atap gedung. Dapat ia lihat dari atas sana, Galaski dengan Nolan yang tampak
mengecek berkali-kali gang yang ia lewati.
Helaan terdengar berat, Farel memegang kepalanya yang pusing.
Ini terlalu tiba-tiba aku harus pergi dari kota ini.
Sekarang juga.
Maaf kakek, aku gak bisa ikutin kata kakek.
Ini terlalu tiba-tiba kakek, Farel belum siap.
Leave A Comment
Sing in to post your comment or singup if you don’t have any account.
0 Comments